PERKEMAHAN SAKA BHAKTI HUSADA 2016 BERLANGSUNG SUKSES

Pelepasan Kontingen Lombok TengahKegiatan perkemahan  Saka Bhakti Husada (SBH) Propinsi Nusa Tenggara Barat  Tahun 2016 dilaksanakan di Bumi Perkemahan Karang Bayan Desa Karang Bayan Kecamatan Narmad Kabupaten Lombok Barat berlansung meriah. Acara tersebut dilaksanakan selama 5 (lima) dari Tanggal 23 sampai 27 September 2016. Moto Kegiatan perkemahan  Saka Bhakti Husada (SBH) Propinsi Nusa Tenggara Barat  Tahun 2016 adalah “SEHAT PEDULI KREATIF. Kegiatan tersebut dihadiri oleh kontingen dari 10 Kabupen kota se propinsi NTB yaitu Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat,  Lombok Tengah, Lombok Timur, KLU, KSB, Sumbawa Besar, Kabupaten Dompu, Kabupaten Bima dan Kota Bima

Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Propinsi Nusa Tenggara Barat Bapak Khaerul Anwar, SKM, M. Kes. dalam rangkaian acara Apel Pembukaan kegiatan tersebut .

Rangkaian kegiatan perkemahan  Saka Bhakti Husada (SBH) Propinsi Nusa Tenggara Barat  Tahun 2016 adalah :

  1. Lomba ketangkasan (Jembatan gantung bambu, Enggrang, Bakiak dan hulahop)
  2. Lomba masakan daerah
  3. Kegiatan bakti yakni Bakti sosial pembersihan lingkungan dalam rangka pemberantasan sarang nyamuk dan pemantauan jentik
  4. Penerimaan materi (SBH, Krida PHBS, Krida Bina Obat, Krida Lingkungan Sehat, Krida Pencegahan Penyakit dll
  5. WK ( Wisata Kesehatan) yaitu Kunjungan ke Rumah Sakit Jiwa Mutiara Sukma Mataram, BKMM (Balai Kesehatan Mata Mataram) dan Puskesmas
  6. Pertunjukan /Pentas Seni. Kontingen Lombok Tengah mempersembahkan sebuah drama dan joget yang mengangkat tema cuci tangan pakai sabun dan pemberantasan sarang nyamuk

Selama pelaksanaan kegiatan Kemah Bakti  Saka Bhakti Husada (SBH) dalam situasi cuaca yang kurang bersahabat karena pada musim hujan, akan tetapi hal tersebut tidak mengurangi antusiasme para peserta utk melaksanakan semua kegitan.

 Dengan diadakan kegiatan ini diharapkan akan trercipta generasi yang sehat, peduli dan kreatif sesuai dengan tema kegiatan dimaksud.

Tentang DBD

MalariaEnsiklopedia medis China dari Dinasti Jin (265 – 420 AD) menceritakan tentang seorang yang mungkin mengalami dengue. Buku tersebut menceritakan tentang racun air yang berhubungan dengan serangga yang terbang. Terdapat juga catatan tertulis dari abad ke-17 tentang apa yang mungkin menjadi epidemik dengue (yakni ketika penyakit menyebar dengan sangat cepat dalam waktu singkat). Laporan-laporan yang paling awal tentang kemugkinan epidemik dengue adalah dari tahun 1779 dan 1780. Laporan ini bercerita tentang epidemik yang menyapu Asia, Afrika, dan Amerika Utara. Sejak saat itu hingga 1940, tidak banyak lagi epidemik.

Pada Tahun 1906 para ilmuwan membuktikan bahwa manusia terkena infeksi dari nyamuk Aedes. Pada 1907 para ilmuwan menunjukkan bahwa viruslah yang menyebabkan dengue. Ini adalah penyakit kedua yang ditunjukkan sebagai penyakit yang disebabkan oleh virus. John Burton Cleland dan Joseph Franklin Siler meneliti virus dengue dan mengetahui cara dasar virus menyebar.

Demam berdarah atau demam berdarah dengue (DBD) adalah infeksi yang disebabkan oleh virus dengue melalui gigitan nyamuk yang mengandung virus dengue. Demam dengue juga disebut sebagai breakbone fever atau bonebreak fever (demam sendi), karena demam tersebut dapat menyebabkan penderitanya mengalami nyeri hebat seakan-akan tulang mereka patah. Sejumlah gejala dari demam dengue adalah demam, sakit kepala, kulit kemerahan yang tampak seperti campak, dan nyeri otot dan persendian. Pada sejumlah pasien, demam dengue dapat berubah menjadi satu dari dua bentuk yang mengancam jiwa. Yang pertama adalah demam berdarah, yang menyebabkan pendarahan, kebocoran pembuluh darah dan rendahnya tingkat trombosit darah. Yang kedua adalah sindrom renjat dengue, yang menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.

Belum ada vaksin yang dapat mencegah seseorang terkena virus dengue tersebut. Terdapat beberapa tindakan pencegahan demam dengue. Orang-orang dapat melindungi diri mereka dari nyamuk dan meminimalkan jumlah gigitan nyamuk. Para ilmuwan juga menganjurkan untuk memperkecil habitat nyamuk dan mengurangi jumlah nyamuk yang ada. Misalnya dengan menggalakkan gerakan 3M (Menutup, Menguras dan mengubur) barang barang yang kemungkinan dijadikan sarang nyamuk Aedes Aegypti.

Gejala klinis DBD adalah kira-kura  80% dari yang terinfeksi virus dengue tidak menunjukkan gejala, atau hanya menunjukkan gejala ringan (seperti demam biasa), sekitar  5% dari orang yang terinfeksi  akan mengalami infeksi berat, penyakit tersebut pada sebagian kecil penderita bahkan mengancam jiwa dari penderita itu sendiri.

Gejala akan muncul antara 3 dan 14 hari setelah seseorang terpapar virus dengue. Seringkali gejala muncul setelah 4 hingga 7 hari. Oleh karena itu jika seseorang baru kembali dari wilayah yang memiliki banyak kasus dengue, kemudian ia menderita demam atau gejala lainnya setelah lebih dari 14 hari dia kembali dari wilayah tersebut, kemungkinan penyakitnya tersebut bukan dengue. Seringkali apabila anak-anak terkena demam dengue, gejala yang muncul sama dengan gejala pilek atau gastroenteritis (atau flu perut, misalnya, muntah-muntah dan diare). Namun, anak-anak mungkin mengalami masalah yang parah karena demam dengue.

Gejala klasik demam dengue adalah demam yang terjadi secara tiba-tiba, sakit kepala), ruam, nyeri otot dan nyeri sendi. Untuk penyakit ini menggambarkan betapa rasa sakit yang ditimbulkannya dapat menjadi sangat parah. Demam dengue terjadi dalam tiga tahap yakni demam, kritis, dan pemulihan.

Pada fase demam seseorang biasanya mengalami demam tinggi. Panas badan seringkali mencapai 40 derajat Celsius .Penderita juga biasanya menderita sakit yang umum atau sakit kepala. Fase ini biasanya berlangsung selama 2 hingga 7 hari. Pada fase ini, sekira 50% hingga 80% pasien dengan gejala mengalami ruam. Pada hari pertama atau kedua, ruam akan tampak seperti kulit yang terkena panas (merah). Selanjutnya pada hari ke-4 hingga hari ke-7 ruam tersebut akan tampak seperti campak. Bintik merah kecil (petechiae) dapat muncul di kulit. Bintik-bintik ini tidak hilang jika kulit ditekan. Penderita mungkin juga mengalami perdarahan ringan membran mukus mulut dan hidung. Demam itu sendiri cenderung akan berhenti kemudian terjadi lagi selama satu atau dua hari. Namun terkadang pola ini berbeda-beda pada masing-masing penderita.

Pada fase Fase kritis  biasanya berlangsung selama hingga 2 hari. Selama fase ini, cairan dapat menumpuk di dada dan abdomen. Hal ini terjadi karena pembuluh darah kecil bocor. Cairan tersebut akan semakin banyak, kemudian cairan berhenti bersirkulasi di dalam tubuh. Ini berarti bahwa organ-organ vital tidak mendapatkan suplai darah sebanyak biasanya. Karena itu, organ-organ tersebut tidak bekerja secara normal. Penderita penyakit tersebut juga dapat mengalami perdarahan parah biasanya pada saluran gastrointestinal.

Pada fase penyembuhan, cairan yang keluar dari pembuluh darah diambil kembali ke dalam aliran darah. Fase penyembuhan biasanya berlangsung selama 2 hingga 3 hari. Pasien biasanya semakin pulih dalam tahap ini. Namun, mereka mungkin menderita gatal-gatal yang parah dan detak jantung yang lemah. Selama fase ini, pasien dapat mengalami kondisi kelebihan cairan (yakni terlalu banyak cairan yang diambil kembali). Jika terkena otak, cairan tersebut dapat menyebabkan kejang atau perubahan derajat kesadaran (yakni seseorang yang pikirannya, kesadarannya, dan perilakunya tidak seperti biasanya).

Dengue virus ditularkan oleh nyamuk Aedes, khususnya tipe nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini biasanya hidup di antara garis lintang 35° Utara dan 35° Selatan, di bawah ketinggian 1000 m. Nyamuk-nyamuk tersebut lebih sering menggigit pada siang hari. Satu gigitan dapat menginfeksi manusia.

Jika nyamuk betina yang menggigit orang yang terinfeksi, nyamuk tersebut akan menjadi nyamuk infektif. awalnya virus hidup di sel yang menuju saluran pencernaan nyamuk. 8 sd 10 hari berikutnya virus menyebar ke kelenjar saliva nyamuk. Oleh karena itu ketika nyamuk menggigit manusia, saliva yang terinfeksi tersebut masuk ke dalam tubuh manusia dan menginfeksi orang tersebut. Virus sepertinya tidak menimbulkan masalah pada nyamuk yang terinfeksi, yang akan terus terinfeksi sepanjang hidupnya. Nyamuk Aedes aegypti adalah nyamuk yang paling banyak menyebarkan dengue. Dengue juga dapat disebarkan melalui produk darah yang telah terinfeksi dan melalui donasi organ.

Untuk pencegahannya WHO juga menyarankan beberapa tindakan khusus untuk mengendalikan dan menghindarkan gigitan nyamuk. Cara terbaik untuk mengendalikan nyamuk “Aedes aegypti” adalah dengan menyingkirkan habitatnya oleh sebab itu mari bersama sama menggalakkan gerakan 3 M yakni menutup, menguras dan mengubur barang barang yang dijadikan sarang nyamuk Aedes aegypti.

SEKILAS TENTANG SISTEM INFORMASI PUSKESMAS (SIP)

Puskesmas merupakan fasilitas pelayanan kesehatan primer yang  menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat  dan upaya  kesehatan perseorangan tingkat pertama, untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya. Untuk mengoptimalkan fungsi Puskesmas tersebut diperlukan manajemen Puskesmas yang didukung sistem pencatatan dan pelaporan yang berkualitas. Untuk keperluan tersebut dibutuhkan dukungan sistem informasi Puskesmas yang baik, mulai dari pengumpulan data hasil pelaksanaan kegiatan, sampai pada pengolahan dan pemanfaatannya. Hal ini dipertegas dalam Permenkes Nomor 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat, bahwa Sistem Informasi Puskesmas diperlukan untuk membantu proses pengambilan keputusan dalammelaksanakan manajemen Puskesmas untuk mencapai sasaran kegiatan.

Apa itu SIP?

SIP adalah Serangkaian kegiatan yang minimal meliputi pencatatan dan pelaporan kegiatan Puskesmas dan Jaringannya, survei lapangan, laporan lintas sektor terkait, laporan jejaring faskes di wilayah kerjanya,dan analisis serta pemanfaatan data yang dapat dilakukan secara elektronik dan non elektronik
Pada Permenkes No. 75 Tahun 2014 Tentang Puskesmas dijelaskan bahwa SIP atau Sistem Informasi Puskesmas adalah suatu tatanan yang menyediakan informasi untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam melaksanakan manajemen Puskesmas dalam mencapai sasaran kegiatannya. Setiap Puskesmas wajib menyelenggarakan SIP. Dengan adanya SIP ini maka istilah SP2TP dihilangkan, yang ada hanyalah SIP dengan pencatatan dan pelaporan yang ada di dalamnya Saat ini. SIP sudah diujicobakan di beberapa daerah dan dengan payung hukum SIP melalui Peraturan Menteri Kesehatan sedang dalam proses review oleh Pejabat terkait di Kementerian Kesehatan.

Untuk mendapatkan format SIP silahkan klik :

DOWNLOAD

Pelatihan e-Puskesmas Tingkat Puskesmas se-Kabupaten Lombok Tengah

Praya, 4 September 2016

Sebagai tindak lanjut dari kerja sama antara Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah dengan PT. Telkom dan BPJS dan sekaligus sebagai upaya peningkatan kemampuan petugas SIK Puskesmas di Kabupaten Lombok Tengah dalam pengelolaan Sistem Pencatata dan Pelaporan (Catpor) berbasis Teknologi Informasi maka pada tanggal 27 sampai 31 Agustus 2016 di aula Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah berlangsung kegiatan pelatihan e-Puskesmas yang dihadiri oleh petugas SIK Puskesmas dan Petugas SIK Kabupaten. Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah, dr. Nurhandini Eka Dewi, Sp. A.

Dalam sambutannya Kepala Dinas Kesehatan menyampaikan agar nantinya setiap Puskesmas menggunakan aplikasi e-Puskesmas sebagai sistem Catpor di puskesmas yang terintergrasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten lombok Tengah, sehingga akan lebih memudahkan dilakukan pemantauan secara kontinyu terhadap 25 Puskesmas yang tersebar di 12 Kecamatan di Kabupaten Lombok Tengah.

Dalam kesempatan yang sama juga turut hadir dari PT. Telkom sebagai penyedia server dan  PT. Infokes sebagai pengembang aplikasi e-Puskesmas.

Diharapkan dengan pemanfaatan teknologi informasi yang ada saat ini  akan dapat meningkatkan  pelayanan kesehatan di Puskesmas sekaligus dapat menjembatani komunikasi data antara Dinas Kesehatan dengan Puskesmas

Belum Ditemukan Kasus Zika di Indonesia

Jakarta, 31 Agustus 2016
Kasus Zika telah menyebar secara global ke berbagai negara di dunia. WHO memasukkan kasus ini ke dalam Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Saat ini Indonesia meningkatkan kewaspadaan terkait kasus Zika yang terjadi di Singapura.

Pada saat ini di Indonesia belum ditemukan kasus positif Zika. Adapun 1 kasus yang pernah ditemukan di Jambi didasarkan dari  laporan Lembaga Eijkman. Laporan ini dibuat setelah dilakukan penelitian oleh Eijkman ketika terjadi KLB DBD di Jambi pada tahun 2014. Demikian penjelasan Menkes RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menanggapi pertanyaan dari media terhadap kasus Zika di Gedung Nusantara DPR RI, Jakarta (31/8). Menkes menjelaskan penularan virus Zika adalah melalui nyamuk Aedes Aegypty, yang merupakan nyamuk yang sama dalam menularkan DBD. Oleh karena itu masyarakat diminta waspada dan lebih berhati-hati ketika bepergian keluar negeri terutama bagi ibu hamil. Yang ditakuti dari virus Zika ini kalau ibu hamil yang terinfeksi berisiko memiliki anak yang terkena microchephaly, ujar Menkes.

Di tempat yang sama, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM menegaskan kembali penemuan satu kasus positif Zika di Jambi yang dilakukan oleh Lembaga Eijkman merupakan  hasil dari lembaga Eijkman bukan hasil resmi yang dikeluarkan oleh Kemenkes. Perlu saya tegaskan kembali di Indonesia belum ditemukan atau dilaporkan adanya kasus positif Zika pada manusia. Jadi hasil yang ditemukan oleh lembaga Eijkman itu adalah lembaga riset, sementara yang resmi adalah dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) kita, tegas dr. Subuh.

Sumber:
http://www.depkes.go.id/article/view/16090100001/belum-ditemukan-kasus-zika-di-indonesia.html